Kembali ke Beranda
Umum

Menulis dengan Bantuan AI: Ketika Penulis Tetap Menulis, AI Membantu Mengedit

Artikel ini membahas pandangan sejumlah penulis, akademisi, dan peneliti mengenai penggunaan Artificial Intelligence dalam proses menulis. Fokus utama artikel bukan penggunaan AI untuk menghasilkan tulisan dari awal sampai akhir, melainkan model **AI-Assisted Writing**, di mana manusia tetap menentukan gagasan, argumentasi, pengalaman, sudut pandang, dan membuat draft awal. AI kemudian digunakan sebagai editor digital untuk membantu memeriksa tata bahasa, struktur, kejelasan, konsistensi, argumentasi, serta memberikan second opinion. Artikel mengangkat pandangan Ethan Mollick, Stephen King, Salman Rushdie, Margaret Atwood, serta penelitian mengenai hubungan antara penulis dan Generative AI. Prinsip utamanya adalah **Writer → AI → Writer**: proses dimulai dari manusia, AI membantu di tengah, dan keputusan serta tanggung jawab akhir tetap berada pada manusia.

Kemunculan Generative AI menimbulkan perdebatan besar di dunia kepenulisan.

Apakah tulisan yang menggunakan bantuan Artificial Intelligence masih dapat disebut sebagai karya manusia?

Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana AI digunakan dalam proses tersebut.

Ada perbedaan besar antara:

"AI, tuliskan artikel tentang topik ini."

dengan:

"Saya sudah menulis draft artikel ini.

Tolong periksa tata bahasanya,
cari bagian yang sulit dipahami,
tunjukkan argumen yang lemah,
dan sarankan cara merapikannya
tanpa mengubah gagasan saya."

Pada pendekatan pertama, AI menjadi penulis.

Pada pendekatan kedua, manusia tetap menjadi penulis, sementara AI berfungsi sebagai editor, reviewer, dan second pair of eyes.

Justru model penggunaan kedua inilah yang menarik untuk dibahas.


Menulis Tetap Dimulai dari Manusia

Sebelum era Generative AI, seorang penulis sebenarnya sudah menggunakan banyak teknologi untuk membantu proses menulis.

Kita menggunakan:

Spell Checker
Grammar Checker
Search Engine
Dictionary
Thesaurus
Auto Correct
Reference Manager
Word Processor

Tidak ada yang mengatakan bahwa sebuah artikel kehilangan kepengarangannya hanya karena penulis menggunakan spell checker.

Generative AI memang jauh lebih canggih.

Karena itu batas penggunaannya perlu lebih diperhatikan.

Prinsip sederhananya:

Ide berasal dari manusia. Draft dibuat manusia. AI membantu melihat apa yang dapat diperbaiki. Keputusan akhir tetap berada pada manusia.

Dengan cara tersebut, AI tidak mengambil alih proses berpikir.

AI membantu proses penyuntingan.


Ethan Mollick: AI Dapat Membantu Ketika Penulis Mengalami Kebuntuan

Ethan Mollick, profesor di Wharton School, University of Pennsylvania, merupakan salah satu akademisi yang banyak membahas bagaimana manusia bekerja bersama Generative AI.

Dalam salah satu tulisannya mengenai penggunaan AI dalam proses kreatif, Mollick menceritakan situasi yang sangat familiar bagi seorang penulis.

Ia sedang menulis sebuah paragraf tetapi merasa paragraf tersebut tidak bekerja dengan baik.

Biasanya ia mungkin akan meminta bantuan teman atau rekan kerja.

Dengan Generative AI, ia mencoba meminta beberapa alternatif perbaikan terhadap paragraf tersebut.

Mollick menulis:

“We often lose momentum because of something small. AI can help.”

Pendekatan ini menarik karena AI tidak harus menjadi sumber gagasan utama.

Penulis sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan.

Masalahnya hanyalah:

Bagaimana menyampaikannya dengan lebih baik?

AI kemudian dapat berfungsi seperti seseorang yang duduk di sebelah penulis dan mengatakan:

"Mungkin paragraf ini bisa dibuat lebih jelas."

"Kalimat ini terlalu panjang."

"Bagian ini bisa dipindahkan ke atas."

"Berikut beberapa alternatif penyampaiannya."

Penulis tetap menentukan versi mana yang paling sesuai dengan pikirannya.


Stephen King: Tidak Ada Jalan Pintas untuk Menjadi Penulis

Jauh sebelum munculnya ChatGPT dan Generative AI, Stephen King sudah memberikan prinsip penting mengenai proses menjadi seorang penulis.

Dalam On Writing: A Memoir of the Craft, King mengatakan:

“If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot.”

Ia kemudian menegaskan:

“There's no way around these two things that I'm aware of, no shortcut.”

Pesannya menjadi semakin relevan pada era AI.

AI dapat membantu memperbaiki tulisan.

Tetapi seseorang tetap perlu:

membaca
   +
berpikir
   +
menulis
   +
merevisi

Jika seluruh proses menulis diserahkan kepada AI, kita memang dapat menghasilkan banyak teks.

Namun belum tentu kita sedang meningkatkan kemampuan menulis.


Stephen King tentang AI: Bagus Sekilas, Belum Tentu Setelah Diperiksa

Stephen King sendiri kemudian ikut mengomentari perkembangan AI dalam dunia kepenulisan.

Ketika membahas kemampuan AI menghasilkan tulisan, King menggambarkannya secara singkat sebagai:

“Good at first glance, not so good upon close inspection.”

Pernyataan tersebut memberikan alasan lain mengapa manusia tetap perlu berada dalam proses.

Tulisan AI dapat terlihat:

rapi
gramatikal
terstruktur
meyakinkan

tetapi ketika diperiksa lebih dalam mungkin terdapat:

fakta yang salah

argumen yang dangkal

pengulangan

generalisasi

konteks yang hilang

atau gaya bahasa yang terasa generik

Karena itu hubungan manusia dan AI sebaiknya bukan:

AI menulis
   ↓
Publish

melainkan:

Manusia menulis
      ↓
AI membantu review
      ↓
Manusia memeriksa
      ↓
Manusia memperbaiki
      ↓
Publish

Salman Rushdie: Tulisan Memerlukan Hubungan Personal dengan Bahasa

Novelis Salman Rushdie pernah memberikan perspektif menarik mengenai apa yang membedakan seorang penulis dengan mesin.

Menurut Rushdie, penulis besar memiliki hubungan tertentu dengan bahasa.

Ia mengatakan:

“The best writers have a vision of the world that is personal to themselves.”

Inilah bagian yang sulit digantikan AI.

Seorang penulis membawa sesuatu yang tidak terdapat di dalam prompt:

pengalaman hidup

cara melihat dunia

ingatan

keyakinan

kesalahan

humor

emosi

lingkungan

pengalaman profesional

dan sudut pandang pribadi

Hal-hal tersebut kemudian membentuk voice seorang penulis.

AI dapat membantu memperbaiki kalimat.

Tetapi seharusnya AI tidak menghilangkan voice tersebut.


Margaret Atwood: AI Bukan Pencipta Orisinal

Margaret Atwood, penulis The Handmaid's Tale, juga pernah memberikan pandangannya mengenai Generative AI.

Dalam wawancara dengan Reuters pada 2024, Atwood mengatakan:

“You will never get an original creator out of AI because it's a data scraper.”

Terlepas dari apakah kemampuan AI di masa depan akan mengubah pandangan tersebut, pernyataan Atwood menyoroti sesuatu yang penting dalam kepenulisan:

originalitas bukan sekadar menyusun kata dengan benar.

Originalitas juga muncul dari:

Apa yang ingin kita katakan?

Mengapa kita mengatakan itu?

Pengalaman apa yang membuat kita berpikir demikian?

Apa pendapat kita terhadap masalah tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya tetap dijawab oleh penulis.


AI sebagai Editor, Bukan Ghostwriter

Mungkin analogi yang paling mudah adalah melihat AI sebagai editor digital.

Seorang penulis profesional pun tidak selalu menerbitkan draft pertamanya.

Biasanya terdapat proses:

IDE
 │
 ▼
DRAFT
 │
 ▼
SELF EDITING
 │
 ▼
EDITOR / REVIEWER
 │
 ▼
REVISION
 │
 ▼
FINAL

Dengan AI, kita dapat menambahkan sebuah lapisan:

IDE MANUSIA
     │
     ▼
DRAFT MANUSIA
     │
     ▼
  AI REVIEW
     │
     ├── Grammar
     ├── Clarity
     ├── Structure
     ├── Consistency
     ├── Repetition
     └── Counterargument
     │
     ▼
REVISI MANUSIA
     │
     ▼
FINAL

Dalam model ini, authorship tetap berada pada manusia.


Apa yang Sebaiknya Diminta kepada AI?

Daripada mengatakan:

"Buatkan artikel tentang AI."

seorang penulis dapat memberikan draft dan meminta:

"Periksa apakah ada kalimat
yang sulit dipahami."

atau:

"Cari pengulangan dalam tulisan ini."

atau:

"Periksa tata bahasa tanpa
mengubah gaya tulisan saya."

atau:

"Tunjukkan bagian argumentasi
yang menurutmu masih lemah."

atau bahkan:

"Berperanlah sebagai pembaca yang
tidak setuju dengan tulisan ini.

Bagian mana yang akan kamu kritik?"

AI kemudian menjadi alat untuk menguji tulisan.


AI Sangat Berguna Sebagai Pembaca Pertama

Salah satu masalah dalam menulis adalah penulis terlalu mengenal tulisannya sendiri.

Ketika membaca kalimat:

"Sistem tersebut kemudian melakukan
proses terhadap data sebelumnya."

penulis mungkin merasa kalimat tersebut sangat jelas.

Karena penulis mengetahui konteksnya.

Pembaca mungkin bertanya:

Sistem yang mana?

Proses apa?

Data yang mana?

Sebelumnya kapan?

AI dapat digunakan untuk mencari bagian seperti ini.

Prompt sederhana:

"Baca artikel ini sebagai orang
yang sama sekali tidak memahami topiknya.

Tunjukkan bagian yang membutuhkan
penjelasan tambahan."

Dalam konteks tersebut, AI berfungsi seperti pembaca pertama sebelum tulisan diberikan kepada pembaca sebenarnya.


Penelitian Juga Menunjukkan Penulis Menggunakan AI Secara Selektif

Penelitian berjudul From Pen to Prompt: How Creative Writers Integrate AI into their Writing Practice mempelajari 18 penulis kreatif yang secara rutin menggunakan AI dalam proses menulis.

Temuan penelitian tersebut menarik.

Para penulis tidak sekadar menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI.

Mereka secara sadar menentukan kapan dan bagaimana AI digunakan, dengan mempertimbangkan nilai seperti:

Authenticity
Craftsmanship
Creative Control

Ini menunjukkan bahwa diskusi mengenai AI dalam kepenulisan sebenarnya tidak sesederhana:

Menggunakan AI
      vs
Tidak menggunakan AI

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Pada bagian mana AI digunakan dan siapa yang membuat keputusan kreatif?


Ketika Terlalu Banyak Diserahkan kepada AI

Peneliti Max Kreminski menggunakan istilah menarik:

“the dearth of the author.”

Konsep ini menggambarkan kondisi ketika tools berbasis AI memungkinkan seseorang menghasilkan banyak teks tanpa membuat jumlah keputusan kreatif yang sebanding.

Secara sederhana:

10.000 kata dihasilkan

tetapi

hanya sedikit keputusan
yang benar-benar dibuat penulis.

Tulisan memang ada.

Tetapi kehadiran penulis di dalam tulisan tersebut semakin tipis.

Inilah risiko ketika AI berubah dari:

Writing Assistant

menjadi:

Writing Replacement

Jangan Biarkan AI Menghilangkan Gaya Penulis

Ada risiko lain ketika AI digunakan untuk merapikan tulisan.

AI sering cenderung membuat tulisan menjadi lebih:

formal
terstruktur
netral
aman
generik

Padahal ketidaksempurnaan tertentu justru dapat menjadi karakter seorang penulis.

Misalnya seseorang mempunyai kebiasaan menulis:

“Masalahnya bukan teknologinya. Masalahnya adalah bagaimana kita menggunakannya.”

AI mungkin dapat membuat versi yang secara tata bahasa terlihat lebih kompleks.

Tetapi belum tentu lebih baik.

Karena tulisan bukan kompetisi untuk menghasilkan kalimat yang paling formal.

Tulisan adalah cara seseorang menyampaikan pikirannya kepada orang lain.

Karena itu prompt yang baik ketika menggunakan AI adalah:

"Rapikan tulisan ini,
tetapi pertahankan gaya bahasa,
pendapat, struktur berpikir,
dan karakter penulis."

Fakta Tetap Harus Diverifikasi

Ada satu hal yang sangat penting.

AI dapat membantu memperbaiki bahasa.

Tetapi AI tidak boleh otomatis dipercaya sebagai sumber fakta.

Margaret Atwood pernah menceritakan pengalamannya menggunakan sebuah AI untuk mencari informasi mengenai serial televisi.

AI tersebut memberikan jawaban yang salah.

Atwood kemudian menggunakan ungkapan klasik dunia komputasi:

“Garbage in, garbage out.”

Artinya kualitas output sangat bergantung pada informasi yang digunakan sistem.

Karena itu jika AI memberikan:

angka

tanggal

nama penelitian

peraturan

kutipan

referensi

statistik

penulis tetap harus memeriksa sumber aslinya.


Model yang Lebih Sehat: Writer → AI → Writer

Cara penggunaan AI untuk menulis yang menurut saya lebih tepat dapat diringkas menjadi:

        HUMAN
          │
          ▼
        IDEA
          │
          ▼
        DRAFT
          │
          ▼
          AI
     ┌────┼────┐
     │    │    │
 Grammar Review
 Clarity Review
 Logic Review
 Structure Review
 Counterargument
     │
     ▼
   SUGGESTION
     │
     ▼
        HUMAN
          │
          ▼
       DECISION
          │
          ▼
       REVISION
          │
          ▼
     FINAL ARTICLE

Perhatikan bahwa proses tersebut dimulai dan berakhir pada manusia.

AI berada di tengah.


Siapa Penulisnya?

Kita dapat menggunakan pertanyaan sederhana.

Siapa yang:

menentukan topik?

mempunyai gagasan?

membuat argumentasi?

membawa pengalaman?

menentukan sikap?

menulis draft?

memilih apa yang dipertahankan?

menolak saran AI?

memeriksa fakta?

bertanggung jawab terhadap tulisan?

Jika jawabannya adalah manusia, maka AI pada dasarnya sedang digunakan sebagai alat bantu dalam proses menulis.

Tetapi jika seluruh jawabannya adalah AI dan manusia hanya menekan:

Generate

situasinya tentu berbeda.


AI Tidak Harus Menggantikan Proses Menulis

Generative AI memang mampu menghasilkan ribuan kata dalam hitungan detik.

Tetapi kecepatan menghasilkan kata bukan satu-satunya tujuan menulis.

Menulis juga merupakan proses untuk:

berpikir

menyusun argumentasi

mempertanyakan asumsi

memahami suatu masalah

dan menemukan cara menjelaskan
apa yang ada dalam pikiran kita.

Kadang-kadang kita baru memahami apa yang sebenarnya kita pikirkan setelah mencoba menuliskannya.

Jika proses tersebut seluruhnya dilewati karena AI langsung menghasilkan tulisan akhir, kita mungkin mendapatkan artikel.

Tetapi kita kehilangan sebagian proses berpikir yang terjadi ketika menulis.


Kesimpulan

Perdebatan mengenai AI dan kepenulisan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Apakah tulisan ini menggunakan AI?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana AI digunakan dalam proses menulis?”

Ada perbedaan fundamental antara:

AI membuat tulisan
Manusia mengaku sebagai penulis

dan:

Manusia mempunyai gagasan
        ↓
Manusia menulis draft
        ↓
AI membantu mengoreksi
        ↓
Manusia mempertimbangkan saran
        ↓
Manusia melakukan revisi
        ↓
Manusia bertanggung jawab
terhadap tulisan akhir

Pada model kedua, AI tidak menggantikan penulis.

AI menjadi sesuatu yang lebih sederhana tetapi sangat berguna:

editor digital, reviewer, dan pembaca pertama.

Stephen King mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menjadi penulis: kita tetap harus banyak membaca dan banyak menulis.

Salman Rushdie mengingatkan pentingnya hubungan personal seorang penulis dengan bahasa dan dunia yang dilihatnya.

Margaret Atwood mengingatkan keterbatasan AI sebagai sistem yang bekerja berdasarkan data.

Sementara pengalaman Ethan Mollick menunjukkan bahwa AI dapat sangat berguna ketika seorang penulis sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan tetapi membutuhkan bantuan untuk menyampaikannya dengan lebih baik.

Mungkin di situlah posisi AI yang paling menarik dalam dunia kepenulisan.

Bukan:

“AI, tuliskan sesuatu untuk saya.”

Tetapi:

“Ini yang ingin saya katakan. Bantu saya melihat bagaimana saya dapat mengatakannya dengan lebih baik.”

Karena teknologi seharusnya tidak membuat kita berhenti menulis.

Teknologi seharusnya membantu kita menjadi penulis yang lebih baik.


Referensi

  1. Ethan Mollick — How to... use AI to unstick yourself, One Useful Thing, 2023.
  2. Stephen King — On Writing: A Memoir of the Craft.
  3. Stephen King — komentar mengenai Artificial Intelligence dan penulisan fiksi, 2023.
  4. Salman Rushdie — pembahasan mengenai AI, bahasa, dan karakter seorang penulis.
  5. Margaret Atwood — wawancara Reuters mengenai Artificial Intelligence, 2024.
  6. Alicia Guo, Shreya Sathyanarayanan, Leijie Wang, Jeffrey Heer, Amy Zhang — From Pen to Prompt: How Creative Writers Integrate AI into their Writing Practice, 2024.
  7. Max Kreminski — The Dearth of the Author in AI-Supported Writing, 2024.
artificial intelligenceaigenerative aiai writingai-assisted writingwriting assistantmenulis dengan aipenuliswritingeditingai editorhuman in the loophuman creativitychatgptethan mollickstephen kingsalman rushdiemargaret atwoodcreative writingfuture of writingdigital writingteknologiproduktivitasnirantara
Nirantara Logo

Published by Nirantara

Nirantara is an Indonesian Enterprise AI company specializing in Enterprise AI, RAG, Intelligent Search, and AI Automation. Article written by jsturana.

Learn more about Nirantara